Senin, 06 Juni 2011

Layar Terkembang


Ku Serahkan Kekasihku Untuk Kakak Tercinta
Oleh
DELLA RESTATESELA
2222090269
DIKSATRASIA (3A)
Indonesia pada jaman dahulu, berabad-abad lamanya merupakan jaman tertindas dan pembodohan untuk rakyat Indonesia karena sebuah penjajahan terjadi. Semua rakyat Indonesia sangat menderita dan ini pun dialami para wanita. Wanita di perbudak oleh para pria. Pada jaman itu wanita tidak boleh lebih maju dari pada pria. Wanita ditakdirkan untuk mengurus rumah dan kantornya adalah dapur. Mereka tidak mengenal sekolah, tidak mengenal buku, pulpen, pensil dan tidak mengenal baca. Pada tahun setelah karya sastra lahir tahun 1900-an, rakyat Indonesia sudah mulai di bukakan matanya dari para penjajah yang menyiksanya, namun perempuan Indonesia tetap saja terbelakang dan masih harus berurusan dengan dapur. Barulah pada saat R.A Kartini memperjuangkan para wanita Indonesia agar disejajarkan dengan para pria, pada saat itu wanita Indonesia sudah mengenal baca dan tulis. Namun, semua itu tidak berjalan lancar karena masih adanya pihak orang tua yang melarang anak perempuannya bersekolah.
            Cita-cita yang luhur yang ingin dicapai pahlawan wanita kita dalam memperjuangkan hak wanita ternyata benyak pendukungnya terutama dalam dunia sastra. Pada Angkatan Balai Pustaka banyak roman bermunculan yang bertemakan perempuan tertindas, namun pengarang menyisipkan sisi pemberontakkan terhadap keadaan oleh tokoh antagonisnya. Pada Angkatan Pujangga Baru, suatu novel muncul dengan sentuhan pikiran wanita modern untuk maju dan bisa disetarakan dengan pria. Angkatan ini dipelopori oleh S. Takdir Alisyahbana, Beliaupun pengarang novel tentang pemikiran wanita modern dalam karyanya yang berjudul Layar Terkembang.
Novel tersebut sedikit menyinggung tentang kaum wanita dengan pikiran yang modern. Karya sastra merupakan ruang yang fleksibel dalam menuangkan pikiran dan mudah menyiarkan suatu gagasan. Dalam pembentukan karya sastra, suatu imajinasi, pengalaman, cita-cita, realita dapat dijadikan patokan dalam pembuatan karya sastra. Mimpi yang tak perterwujud  bisa menjadi nyata dalam karya sastra. Dengan usungan tema yang begitu mendalam, penikmat karya sastra pun mampu menangkap amanat yang terkandung didalamnya.
Novel ini mengisahkan perjuangan wanita Indonesia dalam mencapai cita - citanya. Novel ini banyak memperkenalkan masalah wanita Indonesia dengan benturan-benturan budaya baru menuju pemikiran modern. Hak-hak wanita yang banyak diusung oleh budaya modern dengan kesadaran gender, banyak diungkapkan dalam novel ini dan menjadi sisi perjuangannya seperti berwawasan luas dan mandiri. Didalamnya juga banyak memperkenalkan masalah-masalah baru tentang benturan kebudayaan antara barat dan timur serta masalah agama. Roman ini juga menampilkan cinta kasih antara tokoh utamanya yaitu, Yusuf, Maria, dan Tuti.
            Novel ini pertama kali dicetak pada tahun 1936, pada cetakan ke-38 tahun 2006, tampilan novel ini sudah sangat menarik, ada beberapa halaman yang bergambar sehingga pembaca dapat menyatu dengan alur, dan hal itu sangat di tepat dilakukan oleh penerbit mengingat novel ini termasuk novel klasik yang susah dipahami pada masa kini karena permainan diksi yang berbelit. Sastra klasik pada umumnya susah untuk dimengerti pada saat ini, karena pada saat ini, bahasa Indonesia sudah mengalami kemajuan sangat pesat, sehingga dibutuhkan waktu untuk memahami karya sastra klasik.
            Novel ini menceritakan kisah asmara remaja antara Maria dan Yusuf. Hubungan mereka serius dan akan berlanjut ketahap pernikahan. Konflik di mulai ketika Tuti merasa iri atas hubungan Maria dengan Yusuf. Tuti adalah kakak Maria berusia 5 tahun lebih tua dan ia belum menikah. Dan terjadilah pergulatan batin yang menimpa Tuti. Klimaks dari konflik adalah ketika Maria terserang penyakit malaria dan TBC yang membawa ia sampai ajalnya. Dan pesan terakhir Maria adalah agar kedua orang yang ia cintai yaitu Yusuf dan Tuti menikah. Pengarang sengaja memunculkan klimaks pada akhir-akhir cerita agar pembaca dibuat penasaran olehnya. Namun dalam novel tersebut. Pengarang tidak menjelaskan secara terperincin tentang kematia
            Secara keseluruhan isi cerita ini sangatlah bagus. Alur yang ditulis sudah runtut dimulai dari pengenalan, klimaks, antiklimaks, hingga penyelesaian yang sangat dramatis. Novel ini bisa membawa para pembaca seolah-olah menjadi penonton dalam sebuah drama percintaan yang mengharukan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap insan pasti akan mempunyai pasangan hidup jika Sang Penguasa telah menakdirkannya yang mana ia akan menjadi pendamping hidup kita dikala kita suka maupun duka.
            Sayangnya novel yang pertama kalinya terbit di tahun 1936 ini sepertinya kurang diminati para remaja. Padahal temanya pun tak jauh dari realita kehidupan kita. Tatanan bahasa yang dipakai adalah Melayu sehingga kurang bisa dipahami para pembaca. Tatanan kalimatnya tidak efektif sehingga muncul berbagai kalimat ambigu yang menimbulkan missunderstanding pembacanya. Pemakaian bahasa yang tidak komunikatif dalam dialog antar tokoh, kurang menggugah para pembaca untuk melanjutkan ceritanya hingga akhir. Karya sastra sejenis ini memang mementingkan keindahan diksi, novel-novel muncul sebelum Angkatan ‘45 memang terlalu nbanuak pemborosan kata karena belum menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari.
            Dalam novel ini ada unsur-unsur feminisme yang diperlihatkan tokoh Tuti. Tuti adalah putri sulung Raden Wiriaatmaja, ia seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan wanita, selalu serius, jarang memuji, pandai dan cakap dalam mengerjakan sesuatu. Ia seorang wanita yang memiliki wawasan dan pemikiran modern. Ia mencoba menyamakan hak kaum wanita dengan kaum pria. Ambisinya besar untuk menyetarakan perempuan dan laki-laki sangatlah besar, menurut Tuti, perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya di masyarakat.
            Dalam novel ini jelas sekali pengarang menyisipkan amanat bahwa cinta dan pengorbanan terkadang berjalan seiringan. Hal ini terjadi pada tokoh Maria da Yusuf. Cinta Yusuf yang begitu mendalam terhadap Maria begitu jelas terlukis dalam novel ini. Yusuf rela pergi mengunjungi Maria di Bandung sedangkan ia berada di Sumatra. Ketika Maria sakit dan dirawat inap di rumah sakit yang terpencil, Yusuf pun rela menghabiskan waktu liburnya di sana menemani sang kekasih. Dan ketika Maria menghadapi ajal, Maria meminta Yusf dan Tuti sang kakak, agar sudi menjalin hubungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar