Senin, 06 Juni 2011

Jangan Main-Main dengan Kelaminmu


Dari SEKS Menuju Sastra
Oleh
Della Restatesela
2222090269
DIKSATRASIA (3A)

Di Indonesia, seks merupakan hal yang sangat tabu untuk di perbincangkan. Karena seks merupakan sesuatu yang dilakukan oleh orang yang sudah menikah dan menurut agama termasuk dosa besar bila dilakukan sebelum adanya pernikahan. Indonesia merupakan Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam yang begitu mengaramkan seks bebas.
Seks identik dengan hubungan persetubuhan yang dilakukan antara pria dan wanita. Di Indonesia sejumlah perundang-undangan tentang seksual telah disusun agar mempersempit gerak-gerik sejumlah oknum yang “menghalalkan” seks sebelum pernikahan.
Suatu karya sastra merupakan hal yang halal dan menjadi kebanggaan apabila seseorang melahirkan suatu karya yang disukai oleh para pembaca dan berbeda dari pada yang lain walaupun di dalam karya sastra tersebut mengandung unsur-unsur pornografi yang identik dengan seks. Namun, sebuah alasan klise muncul bahwa “ya, itu adalah seni”. Memang antara sastra dan seni sangat perkaitan dan tidak dapat dipisahkan dari setiap karya sastra.
Sebuah karya yang cukup mencengangkan lahir dari jemari indah Djenar Maesa Ayu. Kumpulan cerpen yang berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu). Sebuah judul yang kesan awal untuk para pembaca adalah berkaitan dengan seks. Dalam kumpulan cerpen ini, ada beberapa cerpen yang unsur seksualitasnya sangat tinggi dan tidak layak dibaca untuk orang yang belum cukup umur, bahkan untuk orang dewasa tidak dipungkiri merakapun bisa berfantasi dari apa yang mereka baca. Tulisan-tulisan yang sangat berani dan sangat terperici secara jelas dalam kumpulan tersebut membuat penulis mendapat makian dan penghargaan dari para pecinta karyanya.
Kumpulan cerpen ini mengungkap sisi lain kehidupan. Penulis sangat pintar dalam permainan diksi, sudut pandang, dan tokoh yang berbeda dari kebanyakan cerpen. Dalam beberapa cerpen yang ada dalam buku ini, penulis tidak lagi menjadikan benda hidup yang menjadi tokoh dalam karyanya, benda mati seperti meja dan cermin dijadikan tokoh seperti dalam cerpen Mandi Sabun Mandi. Dalam cerpen tersebut pembaca seperti diingatkan bahwa apapun yang kita lakukan didunia ini Tuhan selalu mengetahuinya. Meja dan Cermin di dalam kamar motel tersebut menjadi saksi mati apa yang dilakukan oleh pria dan wanita yang bukan suami istri. Keesokan harinya wanita itu kembali datang dengan pria yang berbeda, lagi-lagi meja dan cermin menjadi saksi. Entah sudah berapa pasangan yang sudah disaksikan oleh mereka.
Dalam kumpulan cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) majas personifikasi tidak hanya digunakan sebagai tokoh tetapi juga dijadikan sebagai sudut pandang pengarang seperti dalam cerpen Penthouse 2601. Dalam cerpen tersebut, sebuah cita-cita indah yang diharapkan oleh tokoh “aku” yang tidak lain adalah sebuah ruangan yang teletak di lantai tertinggi yang ditata indah seindah istana kerajaan, yang menginginkan keindahan dan kemewahannya dinikmati untuk tamu-tamunya yang butuh kenyamanan bekerja ditengah tawa ceria keluarga. Dari keindahan yang disuguhkan maka tak jarang untuk menyewa semalam pun harus merogoh kocek yang dalam. Garing rasanya jika pengarang mengabulkan keinginan tokoh utama yang merupakan sebuah ruangan mewah. Impian itu dihancurkan pengarang dengan menjadikan tempat tersebut sebagai tempai untuk berpesta, hura-hura dan seks tentunya.
Permainan sudut pandang juga berlaku dalam cerpen yang berjudul Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu). Dalam cerpen tersebut pengarang menyuguhkan satu cerita tentang perselingkuhan suami. Itu memang hal yang biasa, namun pengarang menyajikan dengan sangat unik melaui berbagai macam sudut pandang. Sehingga pembaca bisa menjadi seseorang yang berbeda didalam satu cerita dan merasakan apa yang para tokoh yang semuanya dijadikan sudut pandang pengarang. Perselingkuhan memang hal yang sangat menyakitkan, namun setelah membaca cerpen tersebut, kita tahu alasan mengapa adanya perselingkuhan. Entah itu karena “penyakit” yang sudah menjadi kebiasaan atau pun karena sang istri tidak bisa menjaga penampilannya agar suami merasa nyaman. Cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) adalah sebuah cerpen yang paragrafnya merupakan pengulangan paragraf yang sebelumnya namun disuguhkan dengan sudut pandang yang berbeda-beda sehingga menjadi keunggulan dari cerpen ini.
Selain pengulangan paragraf, dalam cerpen Staccato terjadinya pengulangan diksi. Berbeda dengan cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) yang disuguhkan dengan perbedaan sudut pandang, namun dalam cerpen ini hanya satu sudut pandang dan itupun abstrak sehinggan jenuh untuk membacanya.
Permainan alurpun terjadi dalam kumpulan cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) dalam cerpen yang berjudul Saya Adalah Seorang Alkoholik!. Pada awalnya cerpen ini mamakai alur maju sampai dengan selesai, namun inti dari cerita merupakan di awal cerita yang pengarang sajikan ketika keadaan berjalan mundur. Akan lebih bagus lagi kalau cerpen ini disajikan secara visual. Selain itu keunikan dalam cerpen ini ada di akhir kalimat yaitu “HUNUBMEP GNAROES HALADA AYAS” yang merupakan kalimai “saya adalah seorang pembunuh” kerena tega membunuh janin-janin yang dikandungnya (lagi-lagi karena seks bebas).
Salah satu cerpen yang paling menonjol dalam kumpulan cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) adalah cerpen yang berjudul Menyusu Ayah. Cerpen ini pun meraih penghargaan menjadi cerpen terbaik 2002 versi Jurnal Perempuan. Dari judul para pembaca sudah dapat memastikan bahwa cerpen ini khusus untuk orang yang sudah cukup umur dan tidak layak dibaca oleh anak-anak. Dalan cerpen ini, terlihat kegundahan seorang anak yang mernama “Nayla” sebagai tokoh utama. Nayla merupakan seorang anak yang berbeda dari kebanyakan anak lainnya, karena ia mampu mengingat semua peristiwa yang ia lalui semenjak ia masih berada dalam kandungan. Masa-masa itu ia lalui dengan suram, karena sang ayah menuduh bahwa ia bukan anaknya. Setelah ia terlahir, kepahitanpun ia terima karena ibu yang mengandungnya meninggal dunia. Semenjak kecil ia tidak menyusu air susu, melainkan menghisap penis ayah dan meminum air mani ayah. Ketika ayah sudah tidak menyusuinya, ia beralih pada teman-temanya dan teman ayahnya. Hingga suatu saat ia harus merelakan kemaluannya untuk dinikmanti pria yang tidak bertanggung jawab dan hasilnya berkembang menjadi janin. Dari keberaniannya menulis cerpen ini, sang pengarang menyisipkan amanat yang penting, bahwa ketika kita, atau istri kita mengandung, seharusnya ucapan kita dijaga.
Cerpen-cerpen yang ada dalam buku ini banyak memeroleh penghargaan. Entah dari isi atau karena ada unsur seks didalamnya. Salah seorang produser film panas Indonesia mengatkan bahwa di negara ini segala sesuatu yang berkaitan dengan seks selalu laku dipasaran, maka wajar saja jika banyak buku ini banyak banyak mendapat penghargaan, dan mungkin juga karena moral bangsa ini sudah rusak.
Berkaitan dengan moral, dalam kumpulan cerpen Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu) ada sebuah cerpen yang membahas masalah moral dalam cerpen yang berjudul Moral.  Dalam cerpen tersebut, pengarang seakan meremehkan moral yang semestinya harus kita junjung tinggi. Dalam cerpen tersebut, nilai morai lebih rendah dari harga rok mini. Akh,, apa memang bangsa ini sudah tidak bermoral? Bahkan diakhir cerpen tersebut pembaca dibuat kaget oleh pengarang dengan kalimat akhir dari tokohnya yaitu “Moral diobral lima ribu tiga di gedung DPR hari ini” kalimat tersebut merupakan sindiran untuk kita semua. Selain itu, untuk membeli “moral” yang haganya seribu rupiah, tokoh aku dalam cerpen tersebut harus berfikir matang-matang tentang sisa uang dan membayar parkir. Itulah teguran kecil dari ibu dengan dua orang putri untuk cerminan bangsa ini.
            Beberapa cerpen dalam kumpulan cerpen ini, ada diantaranya yang sarat akan seksualitas, dan tidak layak dibaca anak-anak karena isinya yang memungkinkan adanya fantasi-fantasi liar dari pembaca. Selain itu, kumpulan cerpen ini pun sarat akan nilai-nilai sosial, banyak sekali pesan yang terkandung dalam cerpen-cerpen tersebut. Suatu imajinasi yang tinggi juga bisa terlahir menjadi karya sastra jika disajikan dengan kematangan dan konsistensi pengarang dalam menyusung tema dan amanat walaupun nilai seksual tereksploitasi dengan baik, maka muncullah istilah “Dari Seks Menuju Sastra”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar